RSS

Saturday, May 16, 2009

Biografi Pak Wiranto

Ia dilahirkan di Yogyakarta pada 4 April 1947. Di tengah serbuan Belanda ke Yogyakarta, orang tuanya harus membawa Wiranto kecil, yang baru berumur satu bulan, pindah ke Solo dengan naik andong. Kuda yang menarik andong (dokar) itu mati dalam perjalanan. Di kota Solo inilah dia mengisi masa kanak-kanak dan remajanya. Di situ ia menempuh pendidikan formalnya dari sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Saat kecil ia sering dipanggil Ento. Nama Wiranto sendiri diberikan oleh ibunya yang diambil dari kata Jawa wira dan anto yang artinya anak yang berani atau anak yang kelak diharapkan selalu mengedepankan kebenaran. Pengasuhan Sang Ibu sangat banyak mempengaruhi pembentukan jati dirinya.

Ia putera keenam dari sembilan bersaudara. Mereka hidup sederhana. Meski demikian keluarga ini tidak pernah menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan dan meraih harapannya. Mereka hidup rukun dan penuh kekeluargaan. Kesulitan hidup yang dihadapi, mendorong mereka untuk saling mendukung dan saling berbagi. Daya tahan dan pengendalian diri yang terbina dalam keluarga ini telah pula menempanya menjadi seorang yang jujur, tekun dan gigih.

Sejak kecil ia sudah terbiasa mengendalikan keinginan dan pengaruh lingkungannya. Ia sudah terdidik untuk tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan prinsip kejujuran dan hal-hal yang di luar kemampuannya. Orangtuanya senantiasa menasihati agar ia memiliki keyakinan yang kuat dan ketakwaan yang tinggi.

Sejak masa kanak-kanak ia sudah terdididik untuk selalu hidup berdisiplin. Ia, misalnya, sudah harus bangun sepagi mungkin untuk membantu tugas tugas keluarga. Watak, sifat, dan kedisiplinannya mewarisi karakter dan kedisiplinan ayahnya yang berprofesi sebagai guru yang juga mendalami kebatinan Jawa. Begitu pula ibunya, yang dikenal sangat ketat dan tegas paling berperan dalam membentuk kepribadian Wiranto.

Ia termasuk anak yang sangat peduli dengan kewajiban dalam keluarga. Selepas pulang sekolah, misalnya, ia selalu menawarkan diri kepada ibunya tentang pekerjaan yang harus dilakukannya. Bahkan, tak jarang ia juga menawarkan diri untuk berbelanja urusan rumah tangga di pasar.

Ia tergolong seorang pendiam, hanya berbicara seperlunya. Tapi ia seorang yang disenangi teman-temannya. Sebab sejak kecil ia tergolong orang yang kaya ide dan pemikiran yang cukup kritis dan inovatif. Ia sering membuat kegiatan-kegiatan yang sifatnya baru. Sehingga, teman yang lain menjadi sangat senang.

Ia juga orang yang sejak kecil telah terlatih untuk madiri. Saat di TK saja ia tidak pernah lagi diantar. Saat SD dan SMP pun ia berjalan kaki menempuh jarak sekolahnya cukup jauh. Dan, sejak TK, SD, SMP, dan SMA, ia tergolong anak yang pandai. Di kalangan teman-teman sepermainan, ia menjadi pemimpin dan panutan.

Kondisi keluarga ini sangat berpengaruh dalam menyalakan cita-citanya. Sejak kecil ia sudah bercita-cita menjadi tentara. Pada saat remaja, cita-citanya sempat berubah ingin menjadi arsitek. Namun, cita-cita itu tidak kesampaian karena faktor ekonomi. Akhirnya, ia masuk AMN yang dibiyai negara.

Biarpun semasa kecil ia sudah bercita-cita menjadi tentara, tetapi tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat akan menjadi orang nomor satu di lingkungan ABRI, apalagi menjadi calon nomor satu di negeri ini. Tapi berkat ketekunan dan kegigihannya, lulusan AMN 1968 ini telah menjabat Panglima ABRI pada tahun 1998 menggantikan pendahulunya Jenderal Feisal Tanjung lulusan AMN 1961.

Kesederhanaan hidup keluarga ini tetap tidak berobah manakala Wiranto telah mencapai puncak karir di TNI. Mereka tak mau memanfaatkan kedudukan dan posisi Jenderal Wiranto untuk keuntungan maupun fasilitas keluarga. Keluarganya tetap memilih hidup sederhana.




Watak yang tumbuh pada pribadi Wiranto dan saudara-saudaranya tampaknya tidak lepas dari didikan kuat ibunya. Hal ini bisa tercermin dari sikap ibunya yang sudah sepuh, menolak keinginan Wiranto untuk mengiriminya sebuah mobil. "Bagaimana nanti nasib tukang becak langganan saya yang mangkal di ujung gang jalan sana?" kata ibunya menolak.

Bahkan memperbaiki rumah tinggal keluarganya, ibunya pun keberatan, khawatir kalau para tetangga justru tidak datang lagi. Akhirnya, rumah tempat tinggal mereka di Solo hingga ibunya wafat, dibiarkan sampai keropos. Barulah setelah ibunya meninggal rumah tempat tinggal keluarga itu diperbesar dan dibangun dalam bentuk rumah padepokan yang terbuka dan digunakan untuk kepentingan kegiatan kampung seperti pengajian, arisan atau bahkan pengantenan.

Jejak Karir
Banyak orang yang sudah lama mengenal sudah memperkirakan karier Wiranto akan terus menanjak. Karena ia dinilai sebagai perwira berusia muda yang tampil cemerlang dengan ide-ide segarnya di setiap bidang tugas yang dipercayakan kepadanya.

Ia memang menjejaki jenjang pendidikan dan karirnya dengan catatan prestasi yang baik, bahkan sebagian besar dengan predikat terbaik. Misalnya Kursus Intelijen di Bogor 1972, Kursus Pembinaan Latihan Satuan di Bandung 1974, Kursus Lanjutan Perwira di Bandung 1975, Seskoad di Bandung 1982, dan Lemhannas di Jakarta 1995.

Kata kuncinya adalah disiplin, kejujuran, ketekunan dan kegigihan. Saat orang lain belajar, ia pun belajar. Saat orang lain isterahat, ia masih tetap belajar. Maka, tidak mustahil kalau ia lebih menguasai persoalan dari yang lain. Kiat yang sangat sederhana dan realistis.

Ketekunan dan kegigihan yang berorientasi prestasi, bukan berorientasi jabatan, itu telah membuahkan jenjang karirnya terus menanjak. Selepas menyelesaikan pendidikan (dilantik) di Akademi Militer Nasional, Magelang (lulus 1968), ia mengawali penugasannya sebagai Perwira Pertama di Korps Kecabangan Infantri (1968). Kemudian menjadi Komandan Peleton Yonif 713 Gorontalo, di sana ia bertugas selama tujuh tahun. Di situ pula ia menemukan jodoh, Rugaiya Usman, SH, puteri Gorontalo, yang dinikahinya tanggal 22 Februari 1975, menjadi keluarga bahagia dan dikaruniai tiga orang anak (dua orang puteri dan satu putera).

Kemudian ia menjabat Komandan Yonif 712 (1982), Karo Teknik Dirbang (1983), Kadep Milnik Pusif (1984), Kepala Staf Brigade Infanteri IX, Jawa Timur (1985), Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Kostrad, Jakarta (1987) dan Asisten Operasi Divisi II Kostrad, Jawa Timur (1988).

Selain menekuni dengan gigih setiap jenjang jabatan yang dipercayakan padanya, ia juga tekun mengikuti berbagai pendidikan, latihan dan kursus yang bersifat pengembangan umum dan spesialisasi. Antara lain Sussar Para (1968), Sussarcab Infantri (1969), Susjur Dasar Perwira Intelijen (1972), Suslapa Infantri (1976), Suspa Binsatlat (1977), Sekolah Staf dan Komando TNI AD (1984) dan Lemhanas (1995) sebagai Peserta Terbaik.

Dengan dedikasi dan kemampuan yang dimilikinya, ia pun kemudian diangkat menjadi Ajudan Presiden selama empat tahun (1989-1993) dengan pangkat kolonel. Untuk jabatan itu, ia menyisihkan 14 calon terbaik dari seluruh satuan TNI-AD. Setelah itu, ia dipercaya menjabat Kasdam Jaya selama 18 bulan (1993-1994), jabatan yang menghantarnya memasuki jenjang pangkat perwira tinggi (Brigjen). Kemudian selama 15 bulan (1994-1996) ia menjabat Pangdam Jaya dengan pangkat Mayjen. Pada saat memangku jabatan ini dia melakukan gebrakan dengan menggalakkan Gerakan Disiplin Nasional (GDN).

Karirnya terus menanjak, pada tahun 1996-1997 ia dipercaya menjabat Panglima Kostrad dengan pangkat Letjen. Pada saat itu, sekali lagi dia menunjukkan keberhasilan dalam penggelaran latihan gabungan ABRI di pulau Natuna, suatu latihan terbesar dan terjauh yang pernah dilakukan ABRI.


Setelah satu tahun lebih menjabat Pangkostrad, ia pun diangkat menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (1997-1998) dengan pangkat Jenderal. Jabatan yang dipangkunya selama 8 bulan itu antara lain digunakan untuk menggalakkan program ABRI Manunggal Pertanian tatkala Indonesia sangat terpukul dengan krisis pangan pada tahun 1997. Sampai akhirnya, pada usianya 50 tahun, ia mendapat kepercayaan menjabat sebagai Panglima ABRI yang satu bulan kemudian dirangkap dengan jabatan Menhankam Kabinet Pembangunan VII (1998). Jabatan ini tetap dipercayakan padanya pada Kabinet Reformasi Pembangunan - BJ Habibie (1998-1999).

Pada saat menjabat Menhankam/ Pangab inilah dia mengambil keputusan berani dan arif mengawal proses reformasi menuju tujuan yang tepat. Antara lain ia melakukan reformasi internal ABRI, memisahkan Polri dari ABRI, serta memisahkan ABRI dari Golkar agar dapat bersikap netral dan tidak masuk dalam politik praktis.

Kariernya belum terhenti sampai pada pemerintahan Presiden BJ Habibie. Pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, ia pun diajak untuk menyusun kabinet dan sekaligus dipercaya menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam).


Nama:
Wiranto

Lahir:
Yogyakarta, 4 April 1947

Agama:
Islam

Isteri:
Hj. Rugaiya Usman, SH

Ayah:
RS Wirowijoto

Ibu:
Suwarsijah

Pendidikan:
Akademi Akademi Militer Nasional, lulus 1968
Sussar Para 1968
Sussarcab Infantri 1969
Susjur Dasar Perwira Intelijen 1972
Suslapa Infantri 1976
Suspa Binsatlat 1977
Sekolah Staf dan Komando TNI AD 1984
Lemhanas 1995 (Peserta Terbaik)

Pangkat:
Letnan Dua 1968
Letnan Satu 1971
Kapten 1973
Mayor 1979
Letkol 1982
Kolonel 1989
Brigjen TNI 1993
Mayjen TNI 1994
Letjen TNI 1996
Jenderal TNI 1997

Karir Militer:
Korps Kecabangan Infantri 1968
Komandan Peleton Yonif 713 Gorontalo, Sulawesi Selatan
Komandan Yonif 712 1982
Karo Tiknik Dirbang 1983
Kadep Milnik Pusif 1984
Kepala Staf Brigade Infanteri IX, Jawa Timur 1985
Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Kostrad, Jakarta 1987
Asisten Operasi Divisi II Kostrad, Jawa Timur
Ajudan Presiden 1989-1993
Kasdam Jaya 1993-1994
Pangdam Jaya 1994-1996
Panglima Kostrad 1996-1997
Kepala Staf Angkatan Darat 1997-1998
Panglima ABRI 1998-1999

Menteri
Menhankam/Pangab 1998 (Kabinet Pembangunan VII)
Menhamkan/Pangab/Pang TMI 1998-1999 (Kabinet Reformasi Pembangunan-Habibie)
Menko Polkam, 1999-2000 (Kabinet Persatuan Nasional-Gus Dur)

Hobi:
Menyanyi, Bulutangkis, golf, tenis lapangan
Organisasi Olahraga:
Ketua Umum Federasi Karatedo Indonesia (FORKI)
Ketua Umum Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI)

sumber : www.tokohindonesia.com





2 Komentar:

gita said...

thanks bgt ttg biografi pak wiranto..
matur nuwun.. :)

Sendi Prahara said...

Semangat terus pak,keren perjalanan karirnya,

Post a Comment