RSS

Thursday, May 21, 2009

Manuver Para Elit Parpol di Pemilu 2009

Setelah berakhirnya Pemilihan Umum (PEMILU) untuk Anggota Legislatif kemaren, akhirnya telah diketahui siapa pemenangnya dan siapa-siapa saja Partai Politik (Parpol) yang lolos.

Hasil Pemilu Legislatif tahun 2009 adalah:


Kemudian dimulailah manuver-manuver para partai politik tersebut untuk melakukan koalisi atau sekedar melakukan komunikasi politik. Setelah manuver mereka melalui jalan berliku dan cukup membingungkan rakyat, akhirnya terbentuklah 2 macam koalisi. Yaitu koalisi di parlemen dan koalisi untuk pemenangan Calon Presiden.

Koalisi Parlemen

1. Kelompok Teuku Umar
Kelompok ini dikomandani oleh PDIP dan pada awalnya beranggotakan Golkar, Gerindra, Partai Hanura, PPP dan PAN. Tetapi pada saat penandatanganan “Koalisi Besar” tersebut tanggal 1 Mei 2009 ternyata perwakilan PPP dan PAN tidak hadir. Ketidakhadiran kedua partai ini diartikan dengan mundurnya dari koalisi besar tersebut, karena jelas Rapimnas kedua partai tersebut merekomendasikan partai untuk merapat ke Partai Demokrat.

2. Kelompok Cikeas
Kelompok yang dikomandani oleh Partai pemenang Pemilu ini-Partai Demokrat beranggotakan PKB , PKS, PPP dan PAN.

Tetapi seiring berjalannya waktu, akhirnya Golkar mengusung calon Presiden dari internal mereka sendiri sesuai mandat Rapimnasus yaitu Jusuf Kalla – JK dengan Calon Wakil Presiden (cawapres) adalah Wiranto. Sehingga ada tiga pasangan capres dan cawapres yang akan maju dalam pemilihan presiden 8 Juli Mendatang. Yaitu :

1. Pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto
Pasangan ini didukung oleh Golkar dan Hanura.

2. Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dengan Boediono
Didukung Partai Demokrat, PKS, PKB, PPP dan PAN

3. Pasangan Megawati dengan Prabowo
Didukung oleh PDIP dan Partai Gerindra

Tetapi meskipun secara dejure didukung oleh masing-masing partai pendukung sebenarnya secara defacto ada yang mendukung penuh pasangan capresnya tetapi ada pula yang setengah hati mendukung calon capresnya, bahkan cenderung mencari aman.

Partai Demokrat
Dengan modal kemenangan 20,85% cukup membuat partai Demokrat percaya diri untuk mencalonkan calon presidennya dari partainya sendiri, apalagi SBY merupakan presiden terpilih dalam pemilu sebelumnya. Partai Demokrat cukup leluasa untuk memilih calon wapresnya karena kemenangan pemilu legislatif. Sampai-sampai berani menolak JK untuk menjadi cawapresnya. Dan kecerdasan Demokrat sangat terlihat disini dengan memilih Boediono untuk menjadi cawapresnnya. Pemilihan pak Boed ini adalah kepentingan jangka panjang bagi Demokrat. Karena pada pemilu presiden 2014 mendatang pak SBY tidak dapat lagi mencalonkan diri sebagai presiden lagi, maka pencalonan pak Boed dari non parpol ini menguntungkan Demokrat, karena keberhasilan pemerintahan 2009-2014 kelak (apabila SBY-Boediyono menang) jelas tidak ada parpol lain yang berhak meng-klaim selain Demokrat. Semua parpol akan bertarung mulai dari nol lagi dalam mencalonkan capresnya di 2014 kelak.


Partai Golkar
Saat ini posisi Golkar cukup serba salah. Disisi lain, merasa berjasa atas SBY pada pemilu 2004 tetapi disisi lain pak SBY (setelah pemilu legislatif) tidak segera meminang lagi JK untuk jadi cawapresnya. Untuk menjaga harga diri agar Demokrat segera meminang atau untuk menaikkan bargaining power di mata Demokrat, maka dimulailah pendekatan ke PDIP (lawan Partai Demokrat) agar supaya Demokrat segera buru-buru menarik Golkar dari PDIP. Tetapi kenyataannya ternyata Demokrat adem ayem saja. Terpaksalah JK menghadap SBY untuk menanyakan apakah beliau akan di calonkan jadi Cawapres SBY kembali. Sialnya SBY menolaknya. Golkar tentu saja kebakaran jenggot, bahkan karena emosinya, mereka mengumumkan akan mencalonkan presiden dari internal partai sendiri yaitu pak JK melalui Rapimnassus. Pencalonan capres ini lah yang menjadikan posisi Golkar menjadi serba salah kembali. Sehingga menyebabkan koalisi dengan PDIP dalam pemilihan capres menjadi terkendala, karena masing-masing ingin mencalonkan diri sebagai capres bukan cawapres. Sehingga terlihatlah perpecahan di partai Golkar yang sebagian mendukung JK (sesuai hasil rapimnassus) sebagian lagi masih cenderung ingin merapat ke Demokrat. Entah itu perpecahan sebenarnya atau itu hanya strategi partai Golkar untuk mencari selamat apabila pasangan JK-Wiranto kalah dalam pemilu presiden. Karena selama ini Golkar dikenal partai yang cerdik.

Partai PDIP
Partai ini sejak awal sudah mencalonkan Ibu Megawati Soekarno Putri sebagai calon Presiden RI. Entah karena kemampuan Ibu Mega yang paling oke diantara anggota partai atau mungkin tidak punya calon alternatif lain (karena tidak ada yang bisa dijual). Tetapi yang jelas, sebagai partai oposisi pemerintah di pemerintahan 2004-2009, jelas semangat untuk megalahkan lawannya yaitu Demokrat masing menggelora. Tetapi masalah timbul saat PDIP bingung untuk mencari pasangan cawapresnya. Pernah mendekati pak JK, tapi karena terkendala rekomendasi Rapimnassus Golkar yang mencalonkan JK dalam capres, hal ini menjadi hambatan. Pilihan tinggal Hamengkubuwono dan Prabowo. Pilihan terhadap HB tentu saja mendapat hambatan pula karena Golkar memerlukan suara untuk mendulang suara dalam mendukung JK, sehingga diperkirakan HB ditarik Golkar dalam pencalonannya sebagai cawapres Mega agar suara HB lari ke JK-Win. Pilihan tinggal dengan Prabowo. Karena tinggal menjadi pilihan tunggal (karena tidak ada calon alternatif lain yang menjual) maka tentu saja membuat Prabowo diatas angin. Dia mempunyai posisi tawar yang bagus. Sehingga deklarasi capres-cawapres dari kubu Megawati yang mundur terus mungkin disebabkan tawar menawar yang cukup alot. Hingga akhirnya diumumkan Megawati-Prabowo sebagai pasangan capres-cawapres. Entah apa imbalan yang dijanjikan PDIP sehingga menyebabkan Prabowo bersedia menjadi cawapres Mega.

PKS
Partai ini dari awal sudah merapat ke demokrat. Karena dibandingkan PDIP jelas Demokrat lebih mendekati kriteria calon koalisi PKS. Pernyataan PKS yang secara bulat mendukung Demokrat dan SBY, sempat goyah di saat-saat akhir karena SBY mencalonkan Boediono sebagai pasangan cawapresnya. Penolakan ini sebenarnya bukan disebabkan pak Boed (sebutan Boediono) beraliran barat, neoliberal atau karena sebab lain. Penolakan ini sebenarnya disebabkan oleh partai Demokrat yang memilih pak Boed secara sepihak dan terkesan memaksakan kehendak, tanpa memberikan alasan pemilihan pak Boed tersebut. Karena penolakan itulah maka banyak penilaian negatif terhadap PKS, yang mengira bahwa PKS haus kekuasaan. Bahkan penjelasan dari utusan Demokrat yang memberikan penjelasan kepada Tifatul Sembiring pun tidak cukup. Baru setelah SBY menemui sendiri Tifatul Sembiring dan memberikan penjelasan atas alasan pemilihan Boediono ebagai pasangan cawapres, akhirnya melunaklah sikap PKS. Dan berbalik mendukung SBY secara bulat. Tidak diketahui penjelasan apa yang disampaikan SBY sehingga membuat PKS bisa kembali mendukung SBY.

PAN
Partai yang suara mayoritasnya berasal dari Muhammadiyah (dulu) ini terlihat kebingungan (kalo tidak mau disebut panik). Dengan suara yang hanya 6,01% membuat partai ini tidak mempunyai gigi. Sehingga PAN lebih mencoba mencari selamat dengan berdiri dengan tiga kaki. Kubu Sutrisno Bachir merapat ke PDIP meskipun akhirnya ikut tandatangan dalam koalisi dengan Demokrat, Kubu Amien Rais yang diwakili Drajat Wibowo dan alvin lie yang mendekati kubu JK bahkan Drajat ikut mengantar JK dalam mendaftar ke KPU. Dan sekjen PAN Zulkifli Hasan yang berkoalisi dengan Demokrat. Strategi ini sangat mudah dibaca oleh rakyat. Apalagi ditambah dari tidak adanya sanksi terhadap anggota PAN yang membelot mendukung kubu lain (JK-Win dan Mega-Pro) meskipun resmi secara Partai mendukung Demokrat.

Dimulai dari pertemuan Sutrisno Bachir dan Megawati di Rumah PAN. Kemudian Rapimnas yang digelar PAN yang merekomendasikan PAN untuk berkoalisi dengan Demokrat. Dan terakhir ditekennya koalisi dengan partai Demokrat. Mungkin harapan mereka, siapapun pemenang pemilu presiden besok, PAN tetap selamat.

PPP
Meskipun sempat terjadi perpecahan menjadi 2 kubu di tubuh partai ini, yaitu kubu Suryadharma Ali yang lebih dekat ke PDIP dan kubu Bachtiar Chamsyah yang dekat dengan kubu SBY, tetapi pada akhirnya PPP secara bulat mendukung Demokrat dan SBY-Boediono. Tidak ada yang dikomentari lebih banyak dari partai ini.









PKB
Begitu juga dengan Partai Kebangkitan Bangsa. Yang sudah sejak awal sudah setia dengan partai Demokrat. Entah apakah ini strategi para politisi muda PKB yang di komandani cak Imin atau memang tidak punya strategi. (??) Meskipun begitu, Gus Dur dan Yenny wahid malah mendukung Gerindra / Prabowo sepenuhnya, tidak diketahui apakah dukungan Gus Dur ini mewakili PKB, Nahdhatul Ulama (NU) atau mewakili diri dia secara pribadi.







Partai Hanura
Sejak awal sudah bisa diduga bahwa Hanura akan berkoalisi dengan Partai Golkar, Karena sebenarnya mereka adalah satu ”jiwa”, hanya baju yang membedakan mereka. Pendiri Hanura-Wiranto adalah mantan politisi Golkar yang telah malang melintang sedemikian lama. Dari situs Hanura diketahui bahwa alasan didirikan Hanura adalah:
• Menjawab kepedulian dan kecintaan yang mendalam terhadap nasib negara dan bangsa.
• Menjamin kepastian masa depan bangsa Indonesia yang saat ini tidak jelas arahnya.
• Merekonstruksi model kepemimpinan masa depan yang lebih memahami hati nurani rakyat, serta memiliki sifat-sifat jujur, tegas, berani, dan berkemampuan.
• Mewujudkan semangat sebagaimana yang ditempuh para pendahulu kita, berhimpun bersama untuk menyelamatkan bangsa.
• Merespons persoalan bangsa yang terlalu kompleks dibutuhkan solusi strategis, yaitu berpolitik dengan hati nurani untuk memperjuangkan kebenaran.
• Membangun kekuatan politik yang tidak berorientasi pada kekuasaan semata, namun dengan spirit ke-Tuhanan guna kemaslahatan/kebaikan.
Padahal kalo Cuma itu alasannya, Golkar juga bisa mewujudkannya. Mungkin karena karier Pak Wiranto sudah mentok di Golkar maka Beliau mendirikan partai Hanura.
Sehingga tidak ada kejutan apabila Hanura dan Golkar akhirnya bergabung.



Partai Gerindra
Sebagai pemain baru dalam kancah perpolitikan Indonesia, sepak terjang Partai Gerindra bias dibilang cukup fantastis. Gerindra merupakan satu dari dua partai baru (satunya adalah Hanura) yang berhasil menembus dalam 9 besar parpol yang lolos electoral threshold. Hal itu tidak heran karena faktor figure Prabowo dan karena faktor biaya kampanye yang cukup besar dalam pemilu tahun ini (http://www.tvone.co.id/berita/view/12425/2009/04/24/dana_kampanye_gerindra_rp_308_miliar). Terlepas dari faktor tersebut, yang jelas kita patut acungi jempol bagi partai Gerindra. Hal ini menjadikan Gerindra menjadi semacam diktator minoritas, meskipun suaranya kecil tetapi cukup mempunyai pengaruh khususnya koalisi dengan PDIP. Meskipun terhitung partai kecil ternyata Gerindra cukup percaya diri untuk ngotot mencalonkan diri Prabowo Subianto sebagai calon presiden, meskipun di saat-saat akhir bersedia menjadi cawapres dari Megawati. (padahal mungkin lebih banyak suara apabila Prabowo-Megawati). Tidak ada manuver-manuver politik yang heboh yang dilakukan Gerindra, krn sejak awal (setelah berakhirnya Pileg) langsung merapat ke kubu PDIP – tidak seperti partai lain.



Sekarang kita sebagai rakyat tinggal menunggu pemilu presiden tanggal 8 Juli 2009. Rakyat tidak peduli apakah nantinya presiden kita menggunakan paham ekonomi neoliberal, ekonomi kerakyatan atau apapun namanya, Rakyat hanya butuh bukti berupa harga-harga murah, sekolah murah, biaya kesehatan murah, aman, mencari pekerjaan mudah dan sebagainya. Dan rakyat sekarang sudah tidak bodoh, mereka sudah bisa memilih dengan benar, sudah bisa membedakan mana capres yang hanya mengumbar janji mana yang benar-benar bertindak. Sebenarnya tidak susah mencari mana pemimpin yang tepat, hal itu dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari para capres, berupa tingkah laku, cara berbicara, bagaimana memperoleh nafkah, dan pola kehidupan sehari-hari mereka, rakyat sudah bisa menilai mereka. Jangan salah pilih..!!! pastikan anda datang ke TPS, luangkan waktu 5 menit untuk 5 tahun kehidupan kedepan yang lebih baik.





0 Komentar:

Post a Comment