Showing posts with label Keamanan. Show all posts
Showing posts with label Keamanan. Show all posts

Thursday, March 4, 2010

Types of terrorism

The EU Terrorism Situation and Trend Report (TE-SAT) categorises terrorist organizations by their source of motivation. However, many groups have a mixture of motivating ideologies although usually one ideology or motivation dominates.

The choice of categories used in the TE-SAT reflects the current situation in the EU, as

reported by the member states. The categories are not necessarily mutually exclusive.

Islamist terrorism is perpetrated by individuals, groups, networks or organisations which evoke Islam to justify their actions.

Ethno-nationalist and separatist terrorist groups, such as Euskadi ta Askatasuna (ETA) or Basque Fatherland and Liberty, seek international recognition and political self-determination.

They are motivated by nationalism, ethnicity and/or religion.

Left-wing terrorist groups, such as the Devrimci Halk Kurtulus¸ Partisi / Cephesi (DHKP-C) or Revolutionary People’s Liberation Party/Front, seek to change the entire political, social and economic system of a state according to an extremist leftist model.

Their ideology is often Marxist-Leninist. The agenda of anarchist terrorist groups is usually revolutionary, anti-capitalist and anti-authoritarian. Not all member states distinguish between activities of left-wing and anarchist terrorist groups in their contributions. For this reason, both categories are discussed in the same chapter of this report.

Right-wing terrorist groups seek to change the entire political, social and economic system on an extremist right-wing model. The ideological roots of European right-wing extremism and terrorism can usually be traced back to National Socialism.

Single issue terrorism is violence committed with the desire to change a specific policy or practice within a target society. The term is generally used to describe animal rights and environmentalist terrorist groups.

Saturday, August 8, 2009

Densus 88 - Penangkapan Noordin M Top



Keberhasilan Polri khususnya Detasemen Khusus 88 patut diacungi jempol. Dalam waktu yang hampir bersamaan dapat meringkus gembong teroris Noordin M Top dan Jaringannya di dua tempat sekaligus yaitu di Jatiasih, Bekasi dan di Desa Beji, Temanggung. Sebenarnya apa sih Densus 88 itu?

Densus 88


Detasemen 88, atau Delta 88, merupkan julukan bagi satuan pasukan khusus antiteror yang sedang disiapkan oleh Polri. Direktur Antiteror pada Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Negara RI Brigadir Jenderal (Pol) Pranowo menjelaskan, angka "88" diambil dari jumlah korban ledakan bom yang tewas terbanyak pada saat terjadi bom di Bali. Pada peristiwa tersebut, sebanyak 88 warga negara Australia (satu negara) tewas.
Makna "88" berikutnya adalah, angka "88" tidak terputus dan terus menyambung. Ini artinya bahwa pekerjaan Detasemen 88 Antiteror ini terus berlangsung dan tidak kenal berhenti. Angka "88" juga menyerupai borgol yang maknanya polisi serius menangani kasus ini.
Pasukan khusus ini dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui U.S. State Department's Diplomatic Security Service dan dilatih langsung oleh CIA, FBI, dan U.S. Secret Service. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS. Pusat pelatihannya terletak di Megamendung, 50 kilometer selatan kota Jakarta.

Detasemen 88 dirancang sebagai unit antiteroris yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris mulai dari ancaman bom hingga penyanderaan. Unit khusus berkekuatan 400 personel ini diperkirakan akan efektif beropersai pada tahun 2005. Mereka terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak (penjinak bom), dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu.

Satuan pasukan khusus baru Polri ini dilengkapi dengan persenjataan dan kendaraan tempur buatan Amerika, seperti Colt M-4 assault rifles (senapan serbu), Armalite AR-10 sniper rifles (senapan tembak jitu), dan Remington 870 shotguns (pistol). Bahkan dikabarkan satuan ini akan memiliki pesawat C-130 Hercules sendiri untuk meningkatkan mobilitasnya. Semua persenjataan yang diberikan, termasuk materi latihan, diberitakan sama persis dengan apa yang dimiliki oleh satuan khusus antiteroris AS.

Saat-saat Densus 88 Berusaha Melumpuhkan Kelompok Teroris


Sumber data
- www.indonesiaeliteforces.tripod.com
- www.tvone.co.id

Thursday, August 6, 2009

Kejanggalan di Bom Ritz-Marriott

Sejumlah kejanggalan dari peristiwa meledaknya bom pada 17 Juli lalu di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott dibahas beberapa pengamat Islam. Di antara mereka ada Jose Rizal Jurnalis dari Mer-C, Fadhli Zon dari tim sukses Mega Prabowo, dan Muhammad Al-Khaththath dari Forum Umat Islam atau FUI. Diskusi diselenggarakan di Wisma Dharmala Sakti Jakarta, 29 Juli 2009.

Menurut Al-Khaththath, sehari setelah peristiwa bom itu, sejumlah ormas Islam bertemu di PP Muhammadiyah. Dari situ mereka dapat informasi bahwa pada saat terjadi peledakan, ada 130 anggota CIA yang bermalam di Hotel Marriott. “Saya yakin, ini bukan hal kebetulan!” ujar sekjen FUI ini.

Sayangnya, tidak ada media yang memberitakan soal keberadaan sejumlah agen intelijen Amerika ini yang secara kebetulan berada di lokasi kejadian.

Khaththath yakin bahwa ada pihak-pihak yang sangat kompeten soal bom dan mereka sama sekali tidak dicurigai. “Bukankah yang sangat mengerti soal bom adalah mereka yang ngerti persenjataan. Dan itu bisa polisi, tentara, atau intelejen.”

Ketua Hizbud Dakwah Islam ini pun menyayangkan beberapa media yang mengikuti arus aparat dengan melakukan tuduhan-tuduhan terhadap aktivis Islam.

Khaththath menambahkan, biasanya sebelum ada bom selalu ada pengkondisian terhadap siapa yang akan menjadi tertuduh. “Saya ingat benar dengan peristiwa bom Bali 2002. Seminggu sebelum kejadian, sejumlah ormas Islam diundang ke mabes Polri. Di sana, mereka mendapatkan pengarahan soal bahaya terorisme. Bahkan, di situ disebut tiga orang berbahaya yang disinyalir sebagai anggota jamaah Islamiyah. Mereka itu adalah Abu Bakar Ba’asir, Hambali, dan Imam Samudra. Dan seminggu kemudian, bom meledak. Dan mereka pun langsung menjadi target perburuan polisi,” papar Al-Khaththath.

Senada dengan Khaththath, Jose Rizal menyorot keanehan lain dalam kasus kamar 1808 di hotel Marriott. ”Bagaimana mungkin seorang pelaku bom begitu ceroboh meninggalkan jejak dengan sejumlah bukti yang begitu jelas. Ada laptop, mur, dan sidik jari,” ujar dokter yang sudah begitu akrab dengan korban bom di beberapa tempat konflik.

Menariknya, pada saat kejadian, di hotel tersebut sedang berlangsung pertemuan para top manejer dari beberapa perusahaan besar yang berbisnis di Indonesia. ”Bagaimana mungkin seorang Nurdin M Top bisa secanggih itu dalam soal informasi?” ucap Jose meyakinkan.

Jose menambahkan, agak aneh kalau pelaku bom bunuh diri dengan menggunakan tas troli di bom, tapi kepala dan tubuhnya terpisah. ”Ini juga kejanggalan. Kalau bom diletakkan di ransel, hal itu mungkin terjadi. Tapi kalau bom di tas troli atau dijinjing, sulit menangkap itu sebagai sebuah kebenaran,” papar ketua presidium Mer-C ini.

sumber: eramuslim.com

Friday, July 17, 2009

Video CCTV Detik-detik Menjelang Ledakan


Jakarta - Sama seperti halnya pelaku bom di JW Marriott, pelaku bom bunuh diri di Ritz Carlton juga menginap di hotel tersebut. Saat ini polisi masih melakukan penyelidikan.

"Ada kemungkinan, kita masih menelusuri," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Chrsynanda di lokasi di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Jumat (17/7/2009) malam.

Pelaku di Marriot disebutkan berinisial N atau Nurdin Azis, sesuai dengan daftar tamu hotel di kamar 1808. Bagaimana dengan di Ritz Carlton, apakah sudah ada namanya?

"Belum, belum, tunggu saja. Kita masih menyelidiki," tutupnya.

Inilah detik-detik menjelang Ledakan:

CCTV Hotel Ritz Carlton - Klik Disini

CCTV Hotel JW Marriot - Klik Disini

source: detik.com ; tvone.co.id

Monday, June 1, 2009

KRI Untung Suropati vs Kapal Malingsia di Ambalat

Senin 01-06-2009 -Perairan Ambalat Kalimantan Timur kembali dilanggar kapal perang Malaysia, meski sudah dijaga ketat 7 kapal perang TNI AL jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim).

Kapal perang Malaysia jenis Fast Attack Craft Malaysia KD Baung-3509, Sabtu pagi (30/5/2009) pukul 06.00 Wita, terang-terangan melakukan provokasi memasuki perairan NKRI sejauh 7,3 mil laut pada posisi 04 00 00 Utara 118 09 00 Timur dengan kecepatan kapal 11 knot, baringan 128 serta halu 300, tepatnya di sekitar sebelah tenggara mercu suar Karang Unarang.


Titik posisi pelanggaran kapal Malaysia ini berhasil dideteksi melalui radar KRI Untung Suropati-872 yang sedang berpatroli di Perairan Ambalat pada posisi 04 04 80 Utara 118 03 10 Timur.

Menyikapi hasil pendeteksian di radar adanya kapal asing memasuki wilayah NKRI, KRI Untung Suropati-872 yang dikomandani Mayor Laut (P) Salim memerintahkan ABK melakukan peran tempur bahaya kapal permukaan untuk melakukan pengejaran kapal asing. Dua KRI lain masing-masing KRI Pulau Rimau dan KRI Suluh Pari yang juga tengah berpatroli di sektor perbatasan sebelah utara Perairan Ambalat bergabung melaksanakan pengejaran.

Setelah mendekati titik pengejaran dan berhasil mengidentifikasi secara visual, barulah diketahui kapal tersebut adalah KD Baung-3509 yakni kapal sejenis dengan KD Yu-3508 yang pada 24 Mei lalu juga telah melanggar kedaulatan NKRI. Kapal dari class Jerong berbobot 244 ton dengan panjang 44,9 meter serta lebar 7 meter tersebut dibangun di Jerman tahun 1976. Dari posisinya jelas diketahui kapal Malaysia ini terbukti memasuki wilayah perairan NKRI sejauh 7,3 mil laut.


Mengetahui kapal perang Malaysia kembali memasuki perairan NKRI, komandan KRI Untung Suropati-872 melaksanakan kontak komunikasi radio dengan komandan KD Baung-3509, namun kapal bermeriam 57 mm dan 40 mm tersebut menutup radio dan tidak mau menjalin komunikasi. Selanjutnya KRI Untung Suropati melaksanakan intercept sampai dengan jarak 400 yard, namun komunikasi masih belum terjalin dan KD Baung-3509 sama sekali tidak mengindahkan peringatan dari KRI Untung Suropati.


Karena tidak juga terjalin komunikasi radio, maka KRI Untung Suropati mencoba berkomunikasi isyarat sekaligus melaksanakan shadowing (membayangi secara ketat) untuk memaksa KD Baung-3509 keluar dari perairan NKRI.
Selama proses shadowing keluar NKRI , KD Baung telah melakukan kegiatan harassment (pengejekan) dengan 4 kali manuver zig-zag serta meningkatkan kecepatan kapal yang sangat membahayakan KRI Untung Suropati. Setelah selama 1,5 jam terjadi ketegangan saat membayangi kapal Malaysia tersebut, KRI Untung Suropati akhirnya berhasil menghalau dan mengusirnya sampai batas wilayah NKRI. Tidak lama setelah KD Baung-3509 memasuki Perairan Malaysia sebuah helikopter Malaysia melintas di atas kapal tersebut dalam posisi memberikan perlindungan.

Mengetahui hal ni KRI Untung Suropati mengontak unsur Patroli Udara TNI AL Nomad P-834 yang berada di Tarakan, selanjutnya pesawat intai maritim tersebut terbang menuju posisi ikut membantu penghalauan kapal perang Malaysia.




PROFIL KRI UNTUNG SUROPATI :


KRI Untung Suropati merupakan kapal perang Indonesia dari jenis korvet. Kapal ini termasuk kapal korvet kelas Parchim dengan kode Pakta warsawa Type 133.1. Kapal ini didesain untuk perang anti kapal selam diperairan dangkal / pantai. Enambelas kapal dibuat untuk Volksmarine (1997-1981) dan 12 kapal yang dimodifikasi dibuat untuk AL Soviet pada 1985-1990 oleh Peenewerft, Wolgast. Setelah Penyatuan kembali Jerman , Bekas negara Jerman timur menjual kapal-kapal ini ke TNI AL Indonesia pada 1993.

Kapal korvet ini pernah digunakan sebelumnya oleh tentara Angkatan Laut Jerman Barat. Kapasitas kapal ini bisa menampung sebesar 20 hingga 59 orang anak buah kapal.


Dimensi kapal
KRI Untung Suropati

berukuran 75.2meter x 9.78meter x 2.65 meter/ (246.7 x 32.1 x 8.7 kaki).
Berat muatan penuh sekitar 900 ton


PERSENJATAAN


Torpedo

KRI Untung Suropati dilengkapi dengan empat tabung peluncur torpedo 15.7 inci

Peluru kendali
Sistem pertahanan udaranya adalah dua peluncur [[rudal] SA-N-5, rudal darat ke udara untuk pertahanan udara jarak-dekat terhadap pesawat sayap tetap , pesawat sayap putar dan terhadap rudal anti-kapal yang datang.

Anti kapal selam
Selain itu ia juga dilengkapi dengan 2 RBU-6000 untuk peranan anti-kapal selam (ASW RL) dan juga mempunyai 2 para (Deep Charge).


Meriam

Meriam utama yang dipasang pada dek depan, adalah meriam kembar 57mm/70 caliber DP. Kapal ini juga dilengkapi dengan satu senapan 30 mm kembar serbaguna.


Decoy

PK-16 decol RL yang bisa diluncurkan dalam mode ganggu (distraction) atau menarik (seduction) untuk mengelabui rudal musuh. Selain itu ia juga mempunyai sistem pemantau Watch Dog intercept.

Radar dan Sonar

Radar kapal ini adalah MR-302/Strut Curve bisa digunakan untuk pencarian sasaran di permukaan dan di udara yang dipadukan dengan sistem kontrol tembakan MR-123 Vympel/Muff Cob. Kedua alat itu bekerja secara bersamaan dalam men-scan area diudara maupun dipermukaan. Kapal anti-kapal selam (ASW) ini juga dilengkapi dengan sonar aktif berfrekuensi sederhana di badan kapal dari jenis MG-322T.

Tenaga penggerak

Kapal ini mempunyai tiga mesin disel yang dihubungkan dengan tiga gandar bagi menghasilkan tenaga sebesar 14,250 bhp, dengan kecepatan beroperasi 24 nm.